Novel
ini mengisahkan sebuah cerita cinta yang tidak biasa. Kisah cinta Sabari kepada
Marlena, teman satu sekolahnya ketika SMA, yang merupakan anak kampung
tetangga. Sabari yang sebelumnya tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta dan
wanita, mendadak berubah 180 derajat soal cinta, sejak Marlena memberikan
sebatang pensil kepadanya sebagai hadiah setelah Marlena merebut paksa kertas
jawaban Bahasa Indonesia Sabari pada saat ujian masuk SMA. Berikutnya,
Sabari yang lugu dan pandai berpuisi -yang diwarisi dari ayahnya- selalu
membuatkan puisi cinta untuk pujaan hatinya, Lena. Sebanyak dia membuatkan
puisi cinta, sebanyak itu pula Lena menolaknya, bahkan menghinanya. Namun penolakan
Lena tak membuat Sabari berkecil hati. Sabari melakukan apa saja yang menurut
Zuraida, temannya Lena, disukai oleh Lena.
Kesetiaan
Sabari yang demikian tulus tak lantas membuat Marlena luluh hatinya. Sabari
sama sekali buka tipe pria idaman Lena. Apa yang diinginkan oleh Marlena tidak
ada sedikitpun pada diri Sabari. Sekeras-kerasnya Lena menolak dan menjauh,
sekeras itu pula usaha Sabari mendekati Marlena. Hal itu yang membuat Sabari memutuskan untuk bekerja di perusahaan
batako ayahnya Lena. Demi satu hal yakni mendekati Lena. Usaha yang keras itu
tampak tak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada Sabari semakin mengetahui
bahwa Lena sering bergonta-ganti pasangan, sering bertengkar dengan ayahnya,
sering pulang larut malam, dan masih banyak hal yang diketahuinya soal Marlena.
Tapi
rupanya, cinta Sabari kepada Lena adalah cinta yang tak pada umumnya. Seburuk
apapun citra Lena di masyarakat, Sabari tetap merindukan kehadiran Marlena.
Suatu hari, didengarnya pertengkaran hebat antara Marlena dan ayahnya, Markoni.
Konon, pertengkaran tersebut disebabkan karena terjadi ‘hal yang tak
diinginkan’ dalam pergaulan Lena yang berganti-ganti pasangan itu. Sabari yang
mengetahui hal tersebut kemudian mengorbankan dirinya dengan menikahi Marlena.
Ayah Marlena setuju, mengingat Sabari adalah karyawan terbaik dua tahun
berturut-turut di perusahaan batako miliknya.
Zorro,
adalah Amiru, adalah anak Lena dengan entah siapa, yang sejak Lena menikah
dengan Sabari menjadi anak laki-laki sabari yang amat sangat dicintai oleh
Sabari. Tindakan Lena yang tetap jarang pulang setelah menikah dengan Sabari, membuat
Sabari seorang diri membesarkan Zorro. Zorro berparas tampan, mewarisi wajah
ibunya yang rupawan. Zorro dibesarkan oleh Sabari dengan puisi dan
cerita-cerita. Suatu hari, ketika Zorro yang belum genap berusia 3 tahun,
sedang bermain bersama Sabari di taman kota, dia diambil paksa oleh ibunya
sebagai konsekuensi atas keputusan sidang cerai yang diajukan Lena kepada
Sabari. Sejak saat itu, Sabari mulai -sedikit demi sedikit- kehilangan
semangatnya. Kecintaannya pada Zorro membuatnya tidak siap menghadapi
kehilangan yang begitu tiba-tiba.
Setelah
bercerai dengan Sabari, Marlena menikah dengan tiga laki-laki secara
berturut-turut. Hal itu tidak terlalu sulit dilakukan oleh Marlena, mengingat
dirinya memang memiliki paras yang cantik dan dia termasuk orang yang akan
melakukan apa yang dia inginkan. Selama Marlena berpindah-pindah dan menikah
dengan beberapa laki-laki, selama itu pula Zorro, anak pintar yang rupawan itu,
menemani ibundanya, termasuk merasakan memiliki ayah berganti ganti dan saudara
tiri berganti-ganti. Namun rupanya, kelembutan hati dan kebesaran jiwa Sabari
menurun kepada Zorro. Anak itu menguatkan ibundanya ketika ibundanya merasa
sedih, dan tetap berbuat sedemikian baik kepada bapak tirinya, salah satunya
Amirza.
Sepeninggal
Lena dan Zorro dari rumahnya membuat Sabari kehilangan banyak hal yakni
istrinya, anaknya, semangatnya, hartanya, dan pelan-pelan kesadarannya. Saking
putus asanya, Sabari pernah menyangkutkan sebuah pesan di kaki penyu, yang
kemudian penyu tersebut ditemukan oleh seorang nelayan di Australia, 7 tahun
kemudian. Hal tersebut membuat dua sahabatnya rela untuk mencari Zorro dan Lena
kemana pun mereka pergi. Setelah hampir mengaduk-aduk Pulau Sumatera, dua
sahabat Sabari, Tamat dan Ukun, berhasil membawa Lena dan Zorro kepada Sabari.
Bukan main senangnya Sabari. Anaknya yang dulu diambil paksa oleh ibunya, saat
usianya belum genap 3 tahun, kini kembali kepadanya setelah terpisah 8 tahun 20
hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar