Selasa, 13 Oktober 2015

Analisis Tema pada Novel Siti Nurbaya

4.1.2 Tema
Setelah selesai membaca novel SN karya MR, bagi penulis, membaca novel tidak hanya bertujuan semata-mata mencari dan menikmati kehebatan cerita. Kenyataannya setelah membaca novel SN karya MR ini penulis langsung menghadapi diri dengan pertanyaan: apa sebenarnya yang ingin diungkapkan pengarang lewat novel SN karya MR? Atau, makna apakah yang dikandung novel SN dibalik cerita yang disajikan itu?
Mempertanyakan makna sebuah karya, sebenarnya, juga berarti memper- tanyakan tema. Setiap karya fiksi tentulah mengandung atau menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri tak mudah ditunjukan. Seperti pada novel SN karya MR ini, sebenarnya banyak sekali yang ingin pengarang tunjukan melalui novel ini, tetapi mungkin penyampaiannya ada yang langsung dan juga tidak langsung.
Berikut adalah beberapa tema yang terdapat dalam novel SN karya MR yang penulis temukan dan analisis lebih lanjut:
4.1.2.1 Cinta yang sejati menuntut pengorbanan
Sebenarnya tema dalam novel SN karya MR termasuk dalam tema tradisional. Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama.
Sebenarnya cinta Sitti Nurbaya dan Samsulbahri merupakan cinta sejati yang menuntut pengorbanan. Cinta mereka berdua sangat sulit disatukan sampai harus butuh pengorbanan. Sitti Nurbaya sampai rela pergi ke Jakarta hanya untuk menemui Samsulbahri. Begitu juga Samsulbahri yang harus menemui banyak cobaan, dimulai saat Samsulbahri yang akan melanjutkan sekolah kedokteran di Jakarta sehingga ia harus berpisah dengan kekasihnya, Sitti Nurbaya. Setelah itu, kisah percintaan mereka harus mengalami kepahitan ketika Sitti Nurbaya yang harus menikah dengan Datuk Meringgih. Dan akhirnya kisah percintaan mereka harus berakhir pahit karena Samsulbahri harus kehilangan Sitti Nurbaya kekasihnya itu untuk selama-lamanya.
Novel ini juga termasuk tema tingkat sosial karena novel SN karya MR mengandung banyak permasalahan dan konflik antara satu sama lain yaitu Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yaitu masalah sosial antara lain cinta.
4.1.2.2 Emansipasi Wanita
Pengarang secara tidak langsung menyampaikan bahwa novel SN ini mempunyai tema yaitu emansipasi wanita. Sebenarnya tema ini hanya sebagai tema tambahan karena emansipasi wanita hanya merupakan makna yang  terdapat pada bagian-bagian tertentu dalam novel SN karya MR. Makna-makna tambahan inilah yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor.
Pada novel ini bisa kita lihat bahwa pada awalnya Sitti Nurbaya mau dinikahkan oleh Datuk Meringgih untuk menyelamatkan ayahnya. Tetapi pada akhirnya, setelah ayahnya meninggal Sitti Nurbaya berani mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya. Hal itu membuktikan bahwa wanita bisa melawan dan bisa marah apabila ada orang yang menyakiti dirinya dan bukan hanya diam di rumah.
4.1.2.3 Kawin Paksa
Selama ini, nasib buruk yang dialami Sitti Nurbaya sering disalahartikan sebagai akibat kawin paksa. Padahal, pernikahannya dengan Datuk Meringgih bukan akibat paksaan orang tua, melainkan atas keinginannya sendiri. Sitti Nurbaya melakukan itu demi menyelamatkan ayahnya yang hendak dipenjara karena tak mampu melunasi hutang-hutangnya pada Datuk Meringgih. Hal itu bisa dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, ‘Jangan dipenjarakan ayah ku! Biarlah aku  jadi istri Datuk Meringgih! ’ ”  
(Rusli,2013:151)
Kutipan di atas menunjukan bahwa pernikahan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih, merupakan pengorbanan seorang anak yang mengasihi ayahnya. Hal itu menunjukan ketinggian budi seorang anak.

4.1.2.4 Perjodohan

Selama ini penulis menafsirkan bahwa novel SN karya MR  mengambil tema perjodohan dan tokoh Sitti Nurbaya harus menikah akibat dijodohkan oleh orang tuanya. Padahal setelah membaca novel ini penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa bukan Sitti Nurbaya yang dijodohkan, tetapi banyak wanita pada zaman Sitti Nurbaya harus menikah pada umur yang cukup muda akibat dijodohkan orang tuanya. Seperti keponakan Sutan Mahmud Syah, Rukiah yang akan dijodohkan oleh seorang laki-laki bangsawan. Padahal umur Rukiah baru sekitar 15 tahun, tetapi dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Tidak semua anak perempuan pada zaman itu dapat bersekolah, hanya putri bangsawan dan orang-orang terpandang saja. Mereka dikhususkan untuk belajar di rumah seperti mengurusi dapur dan dilatih untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar