4.1.2
Tema
Setelah selesai membaca
novel SN karya MR, bagi penulis, membaca novel tidak hanya bertujuan semata-mata
mencari dan menikmati kehebatan cerita. Kenyataannya setelah membaca novel SN karya MR ini penulis langsung menghadapi diri dengan pertanyaan: apa
sebenarnya yang ingin diungkapkan pengarang lewat novel SN karya MR? Atau, makna
apakah yang dikandung novel SN
dibalik cerita yang disajikan itu?
Mempertanyakan makna
sebuah karya, sebenarnya, juga berarti memper- tanyakan tema. Setiap karya
fiksi tentulah mengandung atau menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri
tak mudah ditunjukan. Seperti pada novel SN
karya MR ini, sebenarnya banyak
sekali yang ingin pengarang tunjukan melalui novel ini, tetapi mungkin
penyampaiannya ada yang langsung dan juga tidak langsung.
Berikut adalah beberapa
tema yang terdapat dalam novel SN
karya MR yang penulis temukan dan
analisis lebih lanjut:
4.1.2.1
Cinta yang sejati menuntut pengorbanan
Sebenarnya
tema dalam novel SN karya MR termasuk dalam tema tradisional. Tema
tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya
“itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam
berbagai cerita, termasuk cerita lama.
Sebenarnya cinta Sitti
Nurbaya dan Samsulbahri merupakan cinta sejati yang menuntut pengorbanan. Cinta
mereka berdua sangat sulit disatukan sampai harus butuh pengorbanan. Sitti
Nurbaya sampai rela pergi ke Jakarta hanya untuk menemui Samsulbahri. Begitu
juga Samsulbahri yang harus menemui banyak cobaan, dimulai saat Samsulbahri
yang akan melanjutkan sekolah kedokteran di Jakarta sehingga ia harus berpisah
dengan kekasihnya, Sitti Nurbaya. Setelah itu, kisah percintaan mereka harus
mengalami kepahitan ketika Sitti Nurbaya yang harus menikah dengan Datuk
Meringgih. Dan akhirnya kisah percintaan mereka harus berakhir pahit karena
Samsulbahri harus kehilangan Sitti Nurbaya kekasihnya itu untuk selama-lamanya.
Novel ini juga termasuk
tema tingkat sosial karena novel SN
karya MR mengandung banyak
permasalahan dan konflik antara satu sama lain yaitu Sitti Nurbaya dan
Samsulbahri yaitu masalah sosial antara lain cinta.
4.1.2.2
Emansipasi Wanita
Pengarang
secara tidak langsung menyampaikan bahwa novel SN ini mempunyai tema yaitu emansipasi wanita. Sebenarnya tema ini
hanya sebagai tema tambahan karena emansipasi wanita hanya merupakan makna
yang terdapat pada bagian-bagian
tertentu dalam novel SN karya MR. Makna-makna tambahan inilah yang
dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor.
Pada novel ini bisa
kita lihat bahwa pada awalnya Sitti Nurbaya mau dinikahkan oleh Datuk Meringgih
untuk menyelamatkan ayahnya. Tetapi pada akhirnya, setelah ayahnya meninggal
Sitti Nurbaya berani mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya. Hal itu
membuktikan bahwa wanita bisa melawan dan bisa marah apabila ada orang yang
menyakiti dirinya dan bukan hanya diam di rumah.
4.1.2.3
Kawin Paksa
Selama
ini, nasib buruk yang dialami Sitti Nurbaya sering disalahartikan sebagai
akibat kawin paksa. Padahal, pernikahannya dengan Datuk Meringgih bukan akibat
paksaan orang tua, melainkan atas keinginannya sendiri. Sitti Nurbaya melakukan
itu demi menyelamatkan ayahnya yang hendak dipenjara karena tak mampu melunasi
hutang-hutangnya pada Datuk Meringgih. Hal itu bisa dibuktikan pada kutipan
berikut:
“Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke
dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku
dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu
berteriak, ‘Jangan dipenjarakan ayah ku! Biarlah aku jadi istri Datuk Meringgih! ’ ”
(Rusli,2013:151)
Kutipan di atas
menunjukan bahwa pernikahan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih, merupakan
pengorbanan seorang anak yang mengasihi ayahnya. Hal itu menunjukan ketinggian
budi seorang anak.
4.1.2.4
Perjodohan
Selama ini penulis menafsirkan bahwa novel SN karya MR mengambil tema perjodohan
dan tokoh Sitti Nurbaya harus menikah akibat dijodohkan oleh orang tuanya.
Padahal setelah membaca novel ini penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa bukan
Sitti Nurbaya yang dijodohkan, tetapi banyak wanita pada zaman Sitti Nurbaya
harus menikah pada umur yang cukup muda akibat dijodohkan orang tuanya. Seperti
keponakan Sutan Mahmud Syah, Rukiah yang akan dijodohkan oleh seorang laki-laki
bangsawan. Padahal umur Rukiah baru sekitar 15 tahun, tetapi dipaksa menikah
oleh kedua orang tuanya. Tidak semua anak perempuan pada zaman itu dapat
bersekolah, hanya putri bangsawan dan orang-orang terpandang saja. Mereka
dikhususkan untuk belajar di rumah seperti mengurusi dapur dan dilatih untuk
menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar