4.1.1 Analisis
Penokohan dan Perwatakan
Dalam
membaca novel SN karya MR, penulis banyak menemukan
tokoh-tokoh, baik tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, tokoh
antagonis, dan lain-lain. Walaupun dalam novel SN karya MR ini penulis
banyak menemukan banyak tokoh tetapi pada bab ini penulis akan menganalisis
beberapa tokoh saja antara lain: Sitti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Meringgih,
dan Sutan Mahmud Syah.
4.1.1.1 Sitti Nurbaya
Dalam novel SN
karya MR kita sering kali menemukan
banyak sekali tokoh-tokoh, diantaranya adalah Sitti Nurbaya. Sitti Nurbaya
adalah anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang mempunyai beberapa
toko yang besar. Sitti Nurbaya dapat dikatakan tiada bercacat, karena bukan
rupanya saja yang cantik, tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya,
serta kebaikan hatinya. Dalam novel ini Sitti Nurbaya merupakan salah satu tokoh
utama karena Sitti Nurbaya adalah
tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel SN karya MR ini.
Sitti Nurbaya juga termasuk tokoh protagonis.
Ia rela dinikahkan oleh Datuk Meringgih demi membebaskan ayahnya yang sedang
diseret dan ingin dimasuk-
kan ke
dalam penjara. Hal
tersebut dapat dibuktikan
dalam kutipan berikut:
“Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke
dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku
dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu
berteriak, ‘Jangan dipenjarakan ayah ku! Biarlah aku jadi istri Datuk Meringgih! ’ ” (Rusli,2013:151)
Baris ketiga dari kutipan tersebut menunjukan
bahwa Sitti Nurbaya adalah seorang anak perempuan yang berbakti dan sayang
kepada orang tua. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi istri
Datuk Meringgih daripada ayahnya dimasukan ke dalam penjara.
Sitti Nurbaya
juga merupakan tokoh sederhana karena tokoh ini adalah tokoh yang hanya
memiliki satu kualitas pribadi tertentu, ia mudah dikenal dan dipahami watak
serta sifat pribadinya. Pengarang mengenalkan tokoh Sitti Nurbaya dengan
menggunakan teknik analitik. Sitti
Nurbaya digambarkan sebagai anak perempuan yang cantik. Kedua hal tersebut
dapat dibuktikan dalam
kutipan berikut:
“Teman anak muda ini , ialah seorang anak
perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai
pakaian anak Belanda juga … Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis
dan sebuah kotak yang berisi
anak batu, pensil ,
pena, dan lain-lain
sebagainya … Alangkah eloknya paras anak perawan
ini.” (Rusli,2013:1-2)
Kutipan di atas menunjukan bahwa Sitti Nurbaya
adalah tokoh yang sangat mudah sekali dikenal sifat serta wataknya. Baris
keempat dari kutipan tersebut menunjukan bahwa Sitti Nurbaya bukan hanya gadis
yang cantik. Tetapi ia juga gadis yang tulus hatinya. Hal ini terbukti dari
kotak yang dipegang oleh Sitti Nurbaya. Bisa dibayangkan bahwa dia adalah
pelajar yang rajin dan mempunyai semangat bersekolah yang tinggi.
Pengarang
juga mengenalkan Sitti Nurbaya menggunakan teknik dramatik dengan teknik pelukisan fisik. Hal tersebut
dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
“Pandangan
matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung,
sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan diantara kedua
bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagi dua baris gading yang
putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya
kelihatan subang perak, yang bermatakan berlian besar, yang memancarkan cahaya air embun.”(Rusli,2013:2)
Kutipan di atas menunjukan
bahwa Sitti Nurbaya adalah gadis perempuan yang cantik, menawan, dan anak dari
seorang yang berpangkat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hidungnya,
matanya, bibirnya, dan telinganya serta dari warna kulit dan perhiasan yang
dipakai oleh Sitti Nurbaya.
Bagaimana reaksi
Sitti Nurbaya ketika Datuk Meringgih berkata “Engkaulah yang membunuh ayahmu.”
Di saat Sitti Nurbaya sedang berduka cita atas kematian ayahnya? Tentu saja
Sitti Nurbaya marah dan langsung mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya dan
ingin segera menceraikannya. Hal tersebut dapat
dibuktikan dalam kutipan berikut:
“Apa katamu?” kata Nurbaya, “Aku
membunuh ayahku, celaka? Engkau yang membunuhnya! Pada sangkamu aku tiada tahu,
perbuatanmu yang keji itu kepada ayahku? Engkaulah yang menjatuhkan dia, karena
dengki khianatmu dan busuk hatimu.”
“…Aku dahulu menurut kehendakmu, karena
hendak membela ayahku, supaya jangan sampai engkau penjarakan dia. Sekarang
ayahku tak ada lagi, putus pula sekalian tali yang mengikatkan aku kepadamu.
Janganlah engkau harap, aku akan kembali kepadamu.”
“…Tandanya aku berkuasa atas rumah ini,
kuuisr engkau seperti anjing dari sini.”(Rusli,2013:197-200)
Sepotong kutipan
di atas menunjukan bahwa pengarang juga menggambarkan watak Sitti Nurbaya menggunakan teknik dramatik dengan teknik reaksi tokoh.
Sitti Nurbaya marah karena Datuk
Meringgih menyalahkan dirinya yang telah membunuh ayahnya sendiri, terbukti pada baris
pertama pada kutipan
di atas.
Di
sini kita bisa mengetahui bahwa dibalik lembutnya hati Sitti Nurbaya, Ia juga
akan marah saat dituduh hal yang tidak benar. Baris keenam kutipan di atas
menunjukkan bahwa Sitti Nurbaya tidak segan-segan ingin menceraikan Datuk
Meringgih dan mengusirnya karena sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan Datuk
Meringgih yang keji.
4.1.1.2
Samsulbahri
Selain
tokoh Sitti Nurbaya, dalam novel SN
karya MR ini kita masih bisa
menemukan banyak tokoh antara lain Samsulbahri. Samsulbahri adalah anak dari
Sutan Mahmud Syah, penghulu di Padang, seorang yang berpangkat dan berbangsa
tinggi. Samsulbahri telah duduk di kelas 7 Sekolah Belanda Pasar Ambacang.
Samsulbahri adalah teman Sitti Nurbaya. Ia bukannya seorang anak yang pandai
saja, tingkah lakunya pun baik.
Dalam Novel ini
Samsulbahri juga termasuk tokoh utama tambahan. Tokoh ini senantiasa hadir
dalam setiap bab walaupun di beberapa bab tokoh ini tidak muncul tetapi
tokoh-tokoh lainnya yang sedang diceritakan
pada bab tersebut pasti mengaitkan Samsulbahri.
Pada
awal cerita Samsulbahri bisa dikategorikan sebagai tokoh protagonis, hal
tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
“O,ya, Sam. Tadi aku diberi hitungan
oleh Nyonya Van der Stier, tentang perjalanan jarum pendek dan jarum panjang … Bagaimanakah
jalannya hitungan yang sedemikian?… pukul 12, jarum pendek dan jarum panjang
berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit pula, sesudah itu?”
“Ah, jalan hitungan yang semacam ini,
hampir sama dengan jalan hitungan yang telah kuterangkan
dahulu kepadamu … Begini. Cobalah
pinjami
aku batu tulismu itu!”(Rusli,2013:6)
Sepotong kutipan
di atas membuktikan bahwa Samsulbahri adalah anak yang baik karena mau
mengajari temannya, Sitti Nurbaya yang kesulitan dalam pelajaran. Pengarang
mengenalkan tokoh Samsulbahri menggunakan teknik dramatik dengan teknik cakapan atau dialog, Samsulbahri
digambarkan sebagai pemuda yang baik hatinya.
Tetapi
saat di akhir cerita, setelah Samsulbahri menjadi serdadu kompeni dengan
pangkat letnan, ia mengalami transisi tokoh menjadi seorang tokoh
antagonis. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
“Mas dan Van Sta, aku dapat perintah menyuruh
kamu kedua bersama-sama serdadumu, segera berangkat ke Padang…”
“Karena di sana telah timbul perusuhan,
perkara belasting.”
“…Setelah hampirlah mereka, barulah
Letnan Mas membedilnya. Tatkala berbunyilah bedil kedua kalinya, rebahlah
sebaris orang yang dimuka,
jatuh ke tanah. (Rusli,2013:342)
Kutipan
di atas menunjukan bahwa Samsulbahri termasuk tokoh berkembang karena
Samsulbahri mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan yaitu tokoh yang
awalnya sebagai tokoh protagonis mengalami perubahan perwatakan menjadi tokoh
antagonis.
Tindakan
Samsulbahri masuk tentara Belanda adalah tindakan yang baik pada waktu itu. Ia
mau mengabdi kepada pemerintah dan bahkan ikut menumpas pemberontakan yang
antara lain dipimpin oleh Datuk Meringgih. Sebaliknya, tindakan Datuk Meringgih
yang memberontak pada pemerintah (penjajah) dianggap sebagai perbuatan yang
tidak baik.
Namun
jika dilihat pada zaman sekarang Samsulbahri adalah tokoh yang jahat, ia adalah
seorang pengkhianat bagsa karena ia justru memerangi bangsa sendiri yang
berjuang melawan penindasan penjajah. Sebaliknya, Datuk Meringgih adalah
seorang tokoh pejuang bangsa walau perjuangannya itu sebenarnya dengan motivasi
pribadi yang kurang begitu baik karena ia yang justru berjuang memerangi
penjajah.
Samsulbahri
juga merupakan tokoh bulat karena tokoh ini lebih sulit dipahami
dibandingkan tokoh-tokoh lainnya dan tingkah lakunya sering tak terduga. Di
awal cerita kita langsung bisa menafsirkan bahwa Samsulbahri adalah seorang
pemuda yang baik, rajin, dan tampan. Hal tersebut dapat dibuktikan pada
kutipan berikut:
“Seorang dari anak muda ini, ialah anak
laki-laki, yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan
celana pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi
yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam pula dan dikaitkan dengan
ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai
anak Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah peta bumi
dan dengan tangan
kananya dipegangnya sebuah
belebas,
yang dipukul-pukulnya ke betisnya” (Rusli,2013:1)
Baris
ke-5 dalam kutipan tersebut menunjukan ia seorang anak yang rajin. Hal itu
terbukti pada bahwa di tangan kirinya ada beberapa kitab dan sebuah peta bumi. Samsulbahri
dikenalkan langsung oleh pengarang melalui teknik
analitik ia digambarkan sebagai anak laki-laki yang sopan dan anak seorang
yang berbangsa tinggi, hal itu dapat dilihat dari cara ia berpakaian.
Saat
di tengah cerita saat ia mengetahui bahwa Sitti Nurbaya, kekasihnya dan Sitti
Maryam, ibunya meninggal dunia. Ia berniat untuk bunuh diri tetapi rencananya
itu digagalkan oleh temanya, Arifin. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan
berikut:
“Sambil berpikir-pikir demikian,
dibukanyalah kedua surat kawat itu dengan tangan yang gemetar. Setelah
dibacanya kedua surat itu, jatuhlah ia pingsan, tiada khabarkan dirinya, sebab
kedua surat itulah yang membawa kabar kematian Nurbaya dan ibunya…”
“Tangannya yang kanan diangkatnya ke
kepalanya seperti hendak memberi tabik. Tatkala diperhatikan Arifin benar-benar
orang ini, nyatalah yang duduk itu Samsu, yang sedang
mengacungkan pistol ke kepalanya.
” (Rusli,2013:285-298)
Sepotong
kutipan di atas menunjukan bahwa Samsulbahri yang semula digambarkan sebagai
tokoh sempurna, baik budinya dan berpendidikan, ternyata hanya seorang pemuda
lemah yang mudah putus asa dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibu dan
kekasihnya sudah meninggal sehingga memutuskan untuk bunuh diri. Kutipan di
atas menunjukan bahwa Samsulbahri adalah tokoh bulat karena sifat serta
wataknya tak terduga yang awalnya ia seorang pemuda yang sempurna tetapi saat
di tengah ia hanya seorang pemuda yang cengeng dan putus asa.
4.1.1.3
Datuk Meringgih
Selain
Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, kita masih dapat menemukan beberapa tokoh antara
lain Datuk Meringgih. Datuk Meringgih adalah saudagar yang termahsyur kaya di
Padang. Ia bergelar datuk bukanlah karena ia Penghulu adat, melainkan panggilan
saja baginya. Dalam kutipan tersebut menunjukan bahwa Datuk Meringgih adalah
saudagar yang kaya tapi pelit dan licik pikirannya.
Dalam
novel SN karya MR ini Datuk Meringgih termasuk tokoh tambahan utama. Datuk
Meringgih tidak digolongkan sebagai tokoh utama karena ia tidak selalu
diceritakan dalam setiap bab, tetapi ia secara keseluruhan sangat menentukan
plot cerita. Dominasi Datuk Meringgih di dalam cerita ada di bawah Samsulbahri,
sehingga ia termasuk tokoh tambahan yang utama.
Datuk
Meringgih juga termasuk sebagai tokoh antagonis hal itu dapat
dibuktikan
pada kutipan berikut:
“Saudagar
ini adalah seorang yang bakhil, loba, dan tamak, tiada pengasih dan penyayang,
serta bengis kasar budi pekertinya. Asal ia akan beroleh uang, asal akan sampai
maksudnya, tiadalah diindahkannya barang sesuatu, tiadalah ditakutinya barang apapun
dan tiadalah ia pandang
- memandang. Terbujur lalu, terbelintang
patah katanya”
(Rusli,2013:103)
Kutipan
tersebut menunjukan bahwa Datuk Meringgih adalah saudagar yang kaya tapi pelit
dan licik pikirannya, ia harus mendapatkan sesuatu yang ia ingini dengan cara
apapun. Pengarang langsung menggambarkan watak Datuk Meringgih dengan
menggunakan teknik analitik.
Datuk
Meringgih juga termasuk tokoh sederhana karena tokoh ini mudah dipahami
wataknya, yaitu wataknya yang kasar, pelit, dan licik pikirannya. Hal tersebut
dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
“Apabila
ia hendak mengeluarkan uang, walau sesen sekali pun, dibalik-balik dan
ditungkuptelentangkannya duit itu beberapa kali; karena sangat sayang ia akan
bercerai dengan mata uangnya itu…”
“Untuk
memperoleh harta benda itu, tiada ia ngeri akan perbuatan yang kejam dan
jahat, tiada ia
malu akan kelakuan
yang keji dan hina.” (Rusli,2013:104-105)
Baris
pertama kutipan di atas menunjukan bahwa sifat Datuk Meringgih yang sangat
pelit. Ia juga seorang yang kejam dan jahat terbukti pada baris kelima pada
kutipan di atas.
Datuk
meringgih juga termasuk tokoh berkembang karena Datuk Meringgih mengalami
perubahan dan perkembangan perwatakan di awal memang tokoh ini termasuk tokoh
antagonis tetapi di akhir cerita Datuk Meringgih mengalami perubahan perwatakan
menjadi tokoh protagonis. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
“Setelah
hadir sekalian, mulailah Datuk Meringgih membuka bicara. ‘Sebabnya maka kami
minta datang ninik mamak, adik kakak, sanak saudara sekalian, mala mini
berkumpul di sini, ialah karena hendak membicarakan aturan baru yang akan
dipikulkan kompeni kepada kita, yaitu pembayaran uang belasting.”
“…Jadi,
aturan ini dibuat - buat saja oleh
orang Belanda, untuk memeras kita, supaya sekering-keringnya.
(Rusli,2013:330-331)
Kutipan
di atas menunjukan bahwa sebenarnya Datuk Meringgih adalah pelopor atau dalang terhadap
pemberontokan perkara Belasting di Padang. Baris keenam kutipan di atas
menunjukan bahwa Datuk Meringgih mengingatkan bahwa aturan itu sebenarnya tidak
layak untuk dipatuhi karena aturan itu hanya dibuat-buat Belanda saja.
Kutipan
di atas juga menggambarkan watak Datuk Meringgih yang pelit menggunakan teknik
dramatik dengan teknik reaksi tokoh,
yaitu reaksi ketika ada kebijakan baru Belanda untuk meminta pajak. Dialah yang menjadi salah seorang tokoh yang
menggerakan pemberontakan terhadap penjajah Belanda itu, walau hal itu
dilakukan terutama juga karena motivasi pribadi yaitu karena dialah yang nanti
akan kena pajak paling banyak akibat kebijakan Belanda itu dan dia tidak
menginginkannya. Apapun motivasinya, dia tetap menjadi tokoh pemberontak,
artinya dia adalah tokoh pejuang bangsa. Dengan demikian dialah yang berhak
disebut pahlawan bukannya Samsulbahri yang bergabung dengan kompeni Belanda.
Pengarang
juga menggambarkan sifat serta watak Datuk Meringgih menggunakan teknik
dramatik dengan teknik pelukisan latar.
Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
“Di
Kampung Ranah, di Kota Padang adalah sebuah rumah kayu, beratapan seng.
Letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun yang luas…”
“Jika
ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunanya, nyatalah rumah ini suatu
rumah yang tiada dipelihara benar-benar, karena sekalian yang ada dalamnya
telah tua kotor dan tempatnya tiada teratur dengan baik…”
“Di
serambi muka hanya ada sebuah lampu gantung macam lama, yang telah berkarat besi – besinya…”
“Di
bawah lampu ini, ada meja bundar, yang rupanya telah sangat tua, dikelilingi
oleh empat kursi goyang dari kayu, yang warnanya hampir tak kelihatan lagi,
karena catnya telah hilang. Di ruang tengah, hanya ada sebuah lemari
makan, yang umurnya kira-kira setengah
abad…”
“Itulah
rumah Datuk Meringgih, saudagar yang termasyhur kaya di
Padang.“ (Rusli,2013:102)
Kutipan
di atas menunjukan bahwa Datuk Meringgih ialah hanya seorang pemalas yang
jarang membersihkan rumahnya. Ia juga seorang yang pelit hal itu terbukti pada
baris keenam kutipan di atas bahwa ia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk mengganti
lampu gantung yang sudah berkarat atau bahkan membeli kursi dan lemari makan
yang baru.