Senin, 26 September 2016

Kultur Jaringan


Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
·      Mempunyai sifat yang identik dengan induknya
·    Dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas
·      Mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat
·      Kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional

Ada satu sifat sel tumbuhan yang mampu membentuk individu secara utuh. Sifat itu adalah sifat totipotensi. Dengan sifat totipotensi, tumbuhan baru dapat dibudidayakan melalui teknik kultur jaringan.
Teori totipotensi dikembangkan oleh seorang ahli bernama G.Heberland pada tahun 1898. Beliau adalah seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jerman.
Adapun percobaan pada tanaman wortel dengan totipotensi sel akan terbentuk individu baru yang menempuh beberapa tahapan yaitu pada bagian bagian tumbuhan jaringan floem akar pada tanaman wortel kemudian dipotong kecil-kecil masing-masing 2mg lalu ditumbuhkan dengan menggunakan media bernutrien. Ketika sel-sel mengalami pembelahan, maka akan terbentuk kalus. Kalus kemudian dipisahkan ke dalam media nutrisi. Lalu kalus tersebut  
membelah diri kemudian membentuk embrio. Akhirnya terbentuklah tanaman baru. Adapun kalus adalah suatu kumpulan sel yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah secara terus menerus namun belum terdiferensiasi.
Teori totipotensi sel (Total Genetic Potential),artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti sel zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sifat totipotensi pada jaringan tumbuhan dimanfaatkan untuk memperoleh keturunan secara seragam dalam jumlah banyak serta terjadi dengan cepat, karena sel-sel pada tumbuhan bersifat totipotensi yakni memiliki potensi penuh maka hal itu dapat mempertahankan potensi zigot untuk melakukan pembentukan pada semua bagian organisme secara matang.
Jika suatu sel dalam jaringan tanaman dipisahkan dari induknya dan ditumbuhkan pada medium yang sesuai, maka ia akan tumbuh menjadi tanaman baru. Metode inilah yang dipakai dalam kultur jaringan. Namun, tidak semua jaringan tanaman mudah untuk ditumbuhkan karena bagian tanaman yang sebaiknya digunakan adalah bagian yang sedang mengalami pertumbuhan pesat atau sebagai pusat tumbuhan.

Pengambilan eksplan dari jaringan dewasa dalam waktu lama tidak akan membentuk kalus, sebab kemampuan untuk membentuk jaringan tidak ada. Pada prinsipnya eksplan dapat diambil dari semua bagian tanaman baik dari jaringan akar, batang, dan daun muda, pucuk tanaman, tunas muda, selain itu bagian bunga seperti anther, ovary, kelopak, dan kuncup bunga yang masih muda. Biasanya sebagai bahan eksplan dipilih bagian-bagian jaringan yang belum banyak mengalami perubahan bentuk dan kekhususan fungsi atau dipilih bagian-bagian yang bersifat meristematik.