Senin, 26 September 2016

Kultur Jaringan


Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain:
·      Mempunyai sifat yang identik dengan induknya
·    Dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas
·      Mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat
·      Kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional

Ada satu sifat sel tumbuhan yang mampu membentuk individu secara utuh. Sifat itu adalah sifat totipotensi. Dengan sifat totipotensi, tumbuhan baru dapat dibudidayakan melalui teknik kultur jaringan.
Teori totipotensi dikembangkan oleh seorang ahli bernama G.Heberland pada tahun 1898. Beliau adalah seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jerman.
Adapun percobaan pada tanaman wortel dengan totipotensi sel akan terbentuk individu baru yang menempuh beberapa tahapan yaitu pada bagian bagian tumbuhan jaringan floem akar pada tanaman wortel kemudian dipotong kecil-kecil masing-masing 2mg lalu ditumbuhkan dengan menggunakan media bernutrien. Ketika sel-sel mengalami pembelahan, maka akan terbentuk kalus. Kalus kemudian dipisahkan ke dalam media nutrisi. Lalu kalus tersebut  
membelah diri kemudian membentuk embrio. Akhirnya terbentuklah tanaman baru. Adapun kalus adalah suatu kumpulan sel yang terjadi dari sel-sel jaringan awal yang membelah secara terus menerus namun belum terdiferensiasi.
Teori totipotensi sel (Total Genetic Potential),artinya setiap sel memiliki potensi genetik seperti sel zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap. Sifat totipotensi pada jaringan tumbuhan dimanfaatkan untuk memperoleh keturunan secara seragam dalam jumlah banyak serta terjadi dengan cepat, karena sel-sel pada tumbuhan bersifat totipotensi yakni memiliki potensi penuh maka hal itu dapat mempertahankan potensi zigot untuk melakukan pembentukan pada semua bagian organisme secara matang.
Jika suatu sel dalam jaringan tanaman dipisahkan dari induknya dan ditumbuhkan pada medium yang sesuai, maka ia akan tumbuh menjadi tanaman baru. Metode inilah yang dipakai dalam kultur jaringan. Namun, tidak semua jaringan tanaman mudah untuk ditumbuhkan karena bagian tanaman yang sebaiknya digunakan adalah bagian yang sedang mengalami pertumbuhan pesat atau sebagai pusat tumbuhan.

Pengambilan eksplan dari jaringan dewasa dalam waktu lama tidak akan membentuk kalus, sebab kemampuan untuk membentuk jaringan tidak ada. Pada prinsipnya eksplan dapat diambil dari semua bagian tanaman baik dari jaringan akar, batang, dan daun muda, pucuk tanaman, tunas muda, selain itu bagian bunga seperti anther, ovary, kelopak, dan kuncup bunga yang masih muda. Biasanya sebagai bahan eksplan dipilih bagian-bagian jaringan yang belum banyak mengalami perubahan bentuk dan kekhususan fungsi atau dipilih bagian-bagian yang bersifat meristematik.

Minggu, 18 Oktober 2015

Sinopsis AYAH - Andrea Hirata

Novel ini mengisahkan sebuah cerita cinta yang tidak biasa. Kisah cinta Sabari kepada Marlena, teman satu sekolahnya ketika SMA, yang merupakan anak kampung tetangga. Sabari yang sebelumnya tidak terlalu tertarik dengan kisah cinta dan wanita, mendadak berubah 180 derajat soal cinta, sejak Marlena memberikan sebatang pensil kepadanya sebagai hadiah setelah Marlena merebut paksa kertas jawaban Bahasa Indonesia Sabari pada saat ujian masuk SMA.  Berikutnya, Sabari yang lugu dan pandai berpuisi -yang diwarisi dari ayahnya- selalu membuatkan puisi cinta untuk pujaan hatinya, Lena. Sebanyak dia membuatkan puisi cinta, sebanyak itu pula Lena menolaknya, bahkan menghinanya. Namun penolakan Lena tak membuat Sabari berkecil hati. Sabari melakukan apa saja yang menurut Zuraida, temannya Lena, disukai oleh Lena.
Kesetiaan Sabari yang demikian tulus tak lantas membuat Marlena luluh hatinya. Sabari sama sekali buka tipe pria idaman Lena. Apa yang diinginkan oleh Marlena tidak ada sedikitpun pada diri Sabari. Sekeras-kerasnya Lena menolak dan menjauh, sekeras itu pula usaha Sabari mendekati Marlena. Hal itu yang membuat  Sabari memutuskan untuk bekerja di perusahaan batako ayahnya Lena. Demi satu hal yakni mendekati Lena. Usaha yang keras itu tampak tak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada Sabari semakin mengetahui bahwa Lena sering bergonta-ganti pasangan, sering bertengkar dengan ayahnya, sering pulang larut malam, dan masih banyak hal yang diketahuinya soal Marlena.
Tapi rupanya, cinta Sabari kepada Lena adalah cinta yang tak pada umumnya. Seburuk apapun citra Lena di masyarakat, Sabari tetap merindukan kehadiran Marlena. Suatu hari, didengarnya pertengkaran hebat antara Marlena dan ayahnya, Markoni. Konon, pertengkaran tersebut disebabkan karena terjadi ‘hal yang tak diinginkan’ dalam pergaulan Lena yang berganti-ganti pasangan itu. Sabari yang mengetahui hal tersebut kemudian mengorbankan dirinya dengan menikahi Marlena. Ayah Marlena setuju, mengingat Sabari adalah karyawan terbaik dua tahun berturut-turut di perusahaan batako miliknya.
Zorro, adalah Amiru, adalah anak Lena dengan entah siapa, yang sejak Lena menikah dengan Sabari menjadi anak laki-laki sabari yang amat sangat dicintai oleh Sabari. Tindakan Lena yang tetap jarang pulang setelah menikah dengan Sabari, membuat Sabari seorang diri membesarkan Zorro. Zorro berparas tampan, mewarisi wajah ibunya yang rupawan. Zorro dibesarkan oleh Sabari dengan puisi dan cerita-cerita. Suatu hari, ketika Zorro yang belum genap berusia 3 tahun, sedang bermain bersama Sabari di taman kota, dia diambil paksa oleh ibunya sebagai konsekuensi atas keputusan sidang cerai yang diajukan Lena kepada Sabari. Sejak saat itu, Sabari mulai -sedikit demi sedikit- kehilangan semangatnya. Kecintaannya pada Zorro membuatnya tidak siap menghadapi kehilangan yang begitu tiba-tiba.
Setelah bercerai dengan Sabari, Marlena menikah dengan tiga laki-laki secara berturut-turut. Hal itu tidak terlalu sulit dilakukan oleh Marlena, mengingat dirinya memang memiliki paras yang cantik dan dia termasuk orang yang akan melakukan apa yang dia inginkan. Selama Marlena berpindah-pindah dan menikah dengan beberapa laki-laki, selama itu pula Zorro, anak pintar yang rupawan itu, menemani ibundanya, termasuk merasakan memiliki ayah berganti ganti dan saudara tiri berganti-ganti. Namun rupanya, kelembutan hati dan kebesaran jiwa Sabari menurun kepada Zorro. Anak itu menguatkan ibundanya ketika ibundanya merasa sedih, dan tetap berbuat sedemikian baik kepada bapak tirinya, salah satunya Amirza.

Sepeninggal Lena dan Zorro dari rumahnya membuat Sabari kehilangan banyak hal yakni istrinya, anaknya, semangatnya, hartanya, dan pelan-pelan kesadarannya. Saking putus asanya, Sabari pernah menyangkutkan sebuah pesan di kaki penyu, yang kemudian penyu tersebut ditemukan oleh seorang nelayan di Australia, 7 tahun kemudian. Hal tersebut membuat dua sahabatnya rela untuk mencari Zorro dan Lena kemana pun mereka pergi. Setelah hampir mengaduk-aduk Pulau Sumatera, dua sahabat Sabari, Tamat dan Ukun, berhasil membawa Lena dan Zorro kepada Sabari. Bukan main senangnya Sabari. Anaknya yang dulu diambil paksa oleh ibunya, saat usianya belum genap 3 tahun, kini kembali kepadanya setelah terpisah 8 tahun 20 hari.

Selasa, 13 Oktober 2015

Analisis Tema pada Novel Siti Nurbaya

4.1.2 Tema
Setelah selesai membaca novel SN karya MR, bagi penulis, membaca novel tidak hanya bertujuan semata-mata mencari dan menikmati kehebatan cerita. Kenyataannya setelah membaca novel SN karya MR ini penulis langsung menghadapi diri dengan pertanyaan: apa sebenarnya yang ingin diungkapkan pengarang lewat novel SN karya MR? Atau, makna apakah yang dikandung novel SN dibalik cerita yang disajikan itu?
Mempertanyakan makna sebuah karya, sebenarnya, juga berarti memper- tanyakan tema. Setiap karya fiksi tentulah mengandung atau menawarkan tema, namun apa isi tema itu sendiri tak mudah ditunjukan. Seperti pada novel SN karya MR ini, sebenarnya banyak sekali yang ingin pengarang tunjukan melalui novel ini, tetapi mungkin penyampaiannya ada yang langsung dan juga tidak langsung.
Berikut adalah beberapa tema yang terdapat dalam novel SN karya MR yang penulis temukan dan analisis lebih lanjut:
4.1.2.1 Cinta yang sejati menuntut pengorbanan
Sebenarnya tema dalam novel SN karya MR termasuk dalam tema tradisional. Tema tradisional dimaksudkan sebagai tema yang menunjuk pada tema yang hanya “itu-itu” saja, dalam arti ia telah lama dipergunakan dan dapat ditemukan dalam berbagai cerita, termasuk cerita lama.
Sebenarnya cinta Sitti Nurbaya dan Samsulbahri merupakan cinta sejati yang menuntut pengorbanan. Cinta mereka berdua sangat sulit disatukan sampai harus butuh pengorbanan. Sitti Nurbaya sampai rela pergi ke Jakarta hanya untuk menemui Samsulbahri. Begitu juga Samsulbahri yang harus menemui banyak cobaan, dimulai saat Samsulbahri yang akan melanjutkan sekolah kedokteran di Jakarta sehingga ia harus berpisah dengan kekasihnya, Sitti Nurbaya. Setelah itu, kisah percintaan mereka harus mengalami kepahitan ketika Sitti Nurbaya yang harus menikah dengan Datuk Meringgih. Dan akhirnya kisah percintaan mereka harus berakhir pahit karena Samsulbahri harus kehilangan Sitti Nurbaya kekasihnya itu untuk selama-lamanya.
Novel ini juga termasuk tema tingkat sosial karena novel SN karya MR mengandung banyak permasalahan dan konflik antara satu sama lain yaitu Sitti Nurbaya dan Samsulbahri yaitu masalah sosial antara lain cinta.
4.1.2.2 Emansipasi Wanita
Pengarang secara tidak langsung menyampaikan bahwa novel SN ini mempunyai tema yaitu emansipasi wanita. Sebenarnya tema ini hanya sebagai tema tambahan karena emansipasi wanita hanya merupakan makna yang  terdapat pada bagian-bagian tertentu dalam novel SN karya MR. Makna-makna tambahan inilah yang dapat disebut sebagai tema-tema tambahan, atau tema minor.
Pada novel ini bisa kita lihat bahwa pada awalnya Sitti Nurbaya mau dinikahkan oleh Datuk Meringgih untuk menyelamatkan ayahnya. Tetapi pada akhirnya, setelah ayahnya meninggal Sitti Nurbaya berani mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya. Hal itu membuktikan bahwa wanita bisa melawan dan bisa marah apabila ada orang yang menyakiti dirinya dan bukan hanya diam di rumah.
4.1.2.3 Kawin Paksa
Selama ini, nasib buruk yang dialami Sitti Nurbaya sering disalahartikan sebagai akibat kawin paksa. Padahal, pernikahannya dengan Datuk Meringgih bukan akibat paksaan orang tua, melainkan atas keinginannya sendiri. Sitti Nurbaya melakukan itu demi menyelamatkan ayahnya yang hendak dipenjara karena tak mampu melunasi hutang-hutangnya pada Datuk Meringgih. Hal itu bisa dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, ‘Jangan dipenjarakan ayah ku! Biarlah aku  jadi istri Datuk Meringgih! ’ ”  
(Rusli,2013:151)
Kutipan di atas menunjukan bahwa pernikahan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih, merupakan pengorbanan seorang anak yang mengasihi ayahnya. Hal itu menunjukan ketinggian budi seorang anak.

4.1.2.4 Perjodohan

Selama ini penulis menafsirkan bahwa novel SN karya MR  mengambil tema perjodohan dan tokoh Sitti Nurbaya harus menikah akibat dijodohkan oleh orang tuanya. Padahal setelah membaca novel ini penulis bisa mengambil kesimpulan bahwa bukan Sitti Nurbaya yang dijodohkan, tetapi banyak wanita pada zaman Sitti Nurbaya harus menikah pada umur yang cukup muda akibat dijodohkan orang tuanya. Seperti keponakan Sutan Mahmud Syah, Rukiah yang akan dijodohkan oleh seorang laki-laki bangsawan. Padahal umur Rukiah baru sekitar 15 tahun, tetapi dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya. Tidak semua anak perempuan pada zaman itu dapat bersekolah, hanya putri bangsawan dan orang-orang terpandang saja. Mereka dikhususkan untuk belajar di rumah seperti mengurusi dapur dan dilatih untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Analisis Penokohan dan Perwatakan pada novel Sitti Nurbaya

4.1.1 Analisis Penokohan dan Perwatakan
Dalam membaca novel SN karya MR, penulis banyak menemukan tokoh-tokoh, baik tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, tokoh antagonis, dan lain-lain. Walaupun dalam novel SN karya MR ini penulis banyak menemukan banyak tokoh tetapi pada bab ini penulis akan menganalisis beberapa tokoh saja antara lain: Sitti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk Meringgih, dan Sutan Mahmud Syah.
4.1.1.1 Sitti Nurbaya
Dalam novel SN karya MR kita sering kali menemukan banyak sekali tokoh-tokoh, diantaranya adalah Sitti Nurbaya. Sitti Nurbaya adalah anak Baginda Sulaiman, seorang saudagar kaya di Padang, yang mempunyai beberapa toko yang besar. Sitti Nurbaya dapat dikatakan tiada bercacat, karena bukan rupanya saja yang cantik, tetapi kelakuan dan adatnya, tertib dan sopannya, serta kebaikan hatinya. Dalam novel ini Sitti Nurbaya merupakan salah satu tokoh utama karena Sitti Nurbaya  adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam novel SN karya MR ini. 
Sitti Nurbaya juga termasuk tokoh protagonis. Ia rela dinikahkan oleh Datuk Meringgih demi membebaskan ayahnya yang sedang diseret dan ingin dimasuk-
kan  ke  dalam  penjara.   Hal  tersebut  dapat  dibuktikan  dalam  kutipan berikut:
       “Tatkala kulihat ayahku akan dibawa ke dalam penjara, sebagai seorang penjahat yang bersalah besar, gelaplah mataku dan hilanglah pikiranku dan dengan tiada kuketahui, keluarlah aku, lalu berteriak, ‘Jangan dipenjarakan ayah ku! Biarlah aku  jadi istri Datuk Meringgih! ’ ”  (Rusli,2013:151)
Baris ketiga dari kutipan tersebut menunjukan bahwa Sitti Nurbaya adalah seorang anak perempuan yang berbakti dan sayang kepada orang tua. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi istri Datuk Meringgih daripada ayahnya dimasukan ke dalam penjara.
Sitti Nurbaya juga merupakan tokoh sederhana karena tokoh ini adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu, ia mudah dikenal dan dipahami watak serta sifat pribadinya. Pengarang mengenalkan tokoh Sitti Nurbaya dengan menggunakan teknik analitik. Sitti Nurbaya digambarkan sebagai anak perempuan yang cantik. Kedua hal tersebut dapat  dibuktikan  dalam
kutipan berikut:
    
        “Teman anak muda ini , ialah seorang anak perempuan yang umurnya kira-kira 15 tahun. Pakaian gadis ini pun sebagai pakaian anak Belanda juga … Dengan tangan kirinya dipegangnya sebuah batu tulis dan sebuah kotak  yang  berisi  anak  batu,  pensil ,  pena,  dan  lain-lain  sebagainya … Alangkah eloknya paras anak perawan ini.” (Rusli,2013:1-2)
Kutipan di atas menunjukan bahwa Sitti Nurbaya adalah tokoh yang sangat mudah sekali dikenal sifat serta wataknya. Baris keempat dari kutipan tersebut menunjukan bahwa Sitti Nurbaya bukan hanya gadis yang cantik. Tetapi ia juga gadis yang tulus hatinya. Hal ini terbukti dari kotak yang dipegang oleh Sitti Nurbaya. Bisa dibayangkan bahwa dia adalah pelajar yang rajin dan mempunyai semangat bersekolah yang tinggi.

Pengarang juga mengenalkan Sitti Nurbaya menggunakan teknik dramatik dengan teknik pelukisan fisik. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Pandangan matanya tenang dan lembut, sebagai janda baru bangun tidur. Hidungnya mancung, sebagai bunga melur, bibirnya halus, sebagai delima merekah, dan diantara kedua bibir itu kelihatan giginya, rapat berjejer, sebagi dua baris gading yang putih. Dagunya sebagai lebah bergantung, dan pada kedua belah cuping telinganya kelihatan subang perak,  yang  bermatakan  berlian  besar, yang memancarkan cahaya air embun.”(Rusli,2013:2)
Kutipan di atas menunjukan bahwa Sitti Nurbaya adalah gadis perempuan yang cantik, menawan, dan anak dari seorang yang berpangkat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari hidungnya, matanya, bibirnya, dan telinganya serta dari warna kulit dan perhiasan yang dipakai oleh Sitti Nurbaya.
Bagaimana reaksi Sitti Nurbaya ketika Datuk Meringgih berkata “Engkaulah yang membunuh ayahmu.” Di saat Sitti Nurbaya sedang berduka cita atas kematian ayahnya? Tentu saja Sitti Nurbaya marah dan langsung mengusir Datuk Meringgih dari rumahnya dan ingin segera menceraikannya. Hal tersebut dapat
dibuktikan dalam kutipan berikut:
       “Apa katamu?” kata Nurbaya, “Aku membunuh ayahku, celaka? Engkau yang membunuhnya! Pada sangkamu aku tiada tahu, perbuatanmu yang keji itu kepada ayahku? Engkaulah yang menjatuhkan dia, karena dengki khianatmu dan busuk hatimu.”
      “…Aku dahulu menurut kehendakmu, karena hendak membela ayahku, supaya jangan sampai engkau penjarakan dia. Sekarang ayahku tak ada lagi, putus pula sekalian tali yang mengikatkan aku kepadamu. Janganlah engkau harap, aku akan kembali kepadamu.”
      “…Tandanya aku berkuasa atas rumah ini, kuuisr engkau seperti anjing dari sini.”(Rusli,2013:197-200)
Sepotong kutipan di atas menunjukan bahwa pengarang juga menggambarkan watak Sitti  Nurbaya menggunakan teknik dramatik dengan teknik reaksi tokoh.
Sitti Nurbaya marah karena Datuk Meringgih menyalahkan dirinya yang telah membunuh  ayahnya  sendiri,  terbukti  pada  baris  pertama  pada  kutipan  di atas.
Di sini kita bisa mengetahui bahwa dibalik lembutnya hati Sitti Nurbaya, Ia juga akan marah saat dituduh hal yang tidak benar. Baris keenam kutipan di atas menunjukkan bahwa Sitti Nurbaya tidak segan-segan ingin menceraikan Datuk Meringgih dan mengusirnya karena sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan Datuk Meringgih yang keji.
4.1.1.2 Samsulbahri
Selain tokoh Sitti Nurbaya, dalam novel SN karya MR ini kita masih bisa menemukan banyak tokoh antara lain Samsulbahri. Samsulbahri adalah anak dari Sutan Mahmud Syah, penghulu di Padang, seorang yang berpangkat dan berbangsa tinggi. Samsulbahri telah duduk di kelas 7 Sekolah Belanda Pasar Ambacang. Samsulbahri adalah teman Sitti Nurbaya. Ia bukannya seorang anak yang pandai saja, tingkah lakunya pun baik.
Dalam Novel ini Samsulbahri juga termasuk tokoh utama tambahan. Tokoh ini senantiasa hadir dalam setiap bab walaupun di beberapa bab tokoh ini tidak muncul tetapi tokoh-tokoh lainnya yang  sedang  diceritakan  pada  bab  tersebut pasti mengaitkan Samsulbahri.

Pada awal cerita Samsulbahri bisa dikategorikan sebagai tokoh protagonis, hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
      “O,ya, Sam. Tadi aku diberi hitungan oleh Nyonya Van der Stier, tentang perjalanan jarum pendek dan jarum panjang … Bagaimanakah jalannya hitungan yang sedemikian?…  pukul 12, jarum pendek dan jarum panjang berimpit. Pukul berapa kedua jam itu berimpit pula, sesudah itu?”
      “Ah, jalan hitungan yang semacam ini, hampir sama dengan jalan hitungan  yang  telah  kuterangkan  dahulu  kepadamu … Begini.  Cobalah
pinjami aku batu tulismu itu!”(Rusli,2013:6)
Sepotong kutipan di atas membuktikan bahwa Samsulbahri adalah anak yang baik karena mau mengajari temannya, Sitti Nurbaya yang kesulitan dalam pelajaran. Pengarang mengenalkan tokoh Samsulbahri menggunakan teknik dramatik dengan teknik cakapan atau dialog, Samsulbahri digambarkan sebagai pemuda yang baik hatinya.
Tetapi saat di akhir cerita, setelah Samsulbahri menjadi serdadu kompeni dengan pangkat letnan, ia mengalami transisi tokoh menjadi seorang tokoh antagonis. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam kutipan berikut:
       “Mas dan Van Sta, aku dapat perintah menyuruh kamu kedua bersama-sama serdadumu, segera berangkat ke Padang…”
      “Karena di sana telah timbul perusuhan, perkara belasting.”
      “…Setelah hampirlah mereka, barulah Letnan Mas membedilnya. Tatkala berbunyilah bedil kedua kalinya, rebahlah sebaris orang yang dimuka, jatuh ke tanah. (Rusli,2013:342)
Kutipan di atas menunjukan bahwa Samsulbahri termasuk tokoh berkembang karena Samsulbahri mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan yaitu tokoh yang awalnya sebagai tokoh protagonis mengalami perubahan perwatakan menjadi tokoh antagonis.
Tindakan Samsulbahri masuk tentara Belanda adalah tindakan yang baik pada waktu itu. Ia mau mengabdi kepada pemerintah dan bahkan ikut menumpas pemberontakan yang antara lain dipimpin oleh Datuk Meringgih. Sebaliknya, tindakan Datuk Meringgih yang memberontak pada pemerintah (penjajah) dianggap sebagai perbuatan yang tidak baik.
Namun jika dilihat pada zaman sekarang Samsulbahri adalah tokoh yang jahat, ia adalah seorang pengkhianat bagsa karena ia justru memerangi bangsa sendiri yang berjuang melawan penindasan penjajah. Sebaliknya, Datuk Meringgih adalah seorang tokoh pejuang bangsa walau perjuangannya itu sebenarnya dengan motivasi pribadi yang kurang begitu baik karena ia yang justru berjuang memerangi penjajah.          
Samsulbahri juga merupakan tokoh bulat karena tokoh ini lebih sulit dipahami dibandingkan tokoh-tokoh lainnya dan tingkah lakunya sering tak terduga. Di awal cerita kita langsung bisa menafsirkan bahwa Samsulbahri adalah seorang pemuda yang baik, rajin, dan tampan. Hal tersebut dapat dibuktikan pada
kutipan berikut:
       “Seorang dari anak muda ini, ialah anak laki-laki, yang umurnya kira-kira 18 tahun. Pakaiannya baju jas tutup putih dan celana pendek hitam, yang berkancing di ujungnya. Sepatunya sepatu hitam tinggi yang disambung ke atas dengan kaus sutera hitam pula dan dikaitkan dengan ikatan kaus getah pada betisnya. Topinya topi rumput putih, yang biasa dipakai anak Belanda. Di tangan kirinya ada beberapa kitab dengan sebuah   peta   bumi  dan  dengan  tangan  kananya  dipegangnya  sebuah
belebas, yang dipukul-pukulnya ke betisnya” (Rusli,2013:1)
Baris ke-5 dalam kutipan tersebut menunjukan ia seorang anak yang rajin. Hal itu terbukti pada bahwa di tangan kirinya ada beberapa kitab dan sebuah peta bumi. Samsulbahri dikenalkan langsung oleh pengarang melalui teknik analitik ia digambarkan sebagai anak laki-laki yang sopan dan anak seorang yang berbangsa tinggi, hal itu dapat dilihat dari cara ia berpakaian.
Saat di tengah cerita saat ia mengetahui bahwa Sitti Nurbaya, kekasihnya dan Sitti Maryam, ibunya meninggal dunia. Ia berniat untuk bunuh diri tetapi rencananya itu digagalkan oleh temanya, Arifin. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Sambil berpikir-pikir demikian, dibukanyalah kedua surat kawat itu dengan tangan yang gemetar. Setelah dibacanya kedua surat itu, jatuhlah ia pingsan, tiada khabarkan dirinya, sebab kedua surat itulah yang membawa kabar kematian Nurbaya dan ibunya…”
      “Tangannya yang kanan diangkatnya ke kepalanya seperti hendak memberi tabik. Tatkala diperhatikan Arifin benar-benar orang ini, nyatalah yang duduk  itu   Samsu,  yang  sedang  mengacungkan  pistol  ke  kepalanya. ” (Rusli,2013:285-298)
Sepotong kutipan di atas menunjukan bahwa Samsulbahri yang semula digambarkan sebagai tokoh sempurna, baik budinya dan berpendidikan, ternyata hanya seorang pemuda lemah yang mudah putus asa dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibu dan kekasihnya sudah meninggal sehingga memutuskan untuk bunuh diri. Kutipan di atas menunjukan bahwa Samsulbahri adalah tokoh bulat karena sifat serta wataknya tak terduga yang awalnya ia seorang pemuda yang sempurna tetapi saat di tengah ia hanya seorang pemuda yang cengeng dan putus asa.

4.1.1.3 Datuk Meringgih
Selain Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, kita masih dapat menemukan beberapa tokoh antara lain Datuk Meringgih. Datuk Meringgih adalah saudagar yang termahsyur kaya di Padang. Ia bergelar datuk bukanlah karena ia Penghulu adat, melainkan panggilan saja baginya. Dalam kutipan tersebut menunjukan bahwa Datuk Meringgih adalah saudagar yang kaya tapi pelit dan licik pikirannya.
Dalam novel SN karya MR ini Datuk Meringgih termasuk tokoh tambahan utama. Datuk Meringgih tidak digolongkan sebagai tokoh utama karena ia tidak selalu diceritakan dalam setiap bab, tetapi ia secara keseluruhan sangat menentukan plot cerita. Dominasi Datuk Meringgih di dalam cerita ada di bawah Samsulbahri, sehingga ia termasuk tokoh tambahan yang utama.
Datuk Meringgih juga termasuk sebagai tokoh antagonis hal itu dapat
dibuktikan pada kutipan berikut:
      “Saudagar ini adalah seorang yang bakhil, loba, dan tamak, tiada pengasih dan penyayang, serta bengis kasar budi pekertinya. Asal ia akan beroleh uang, asal akan sampai maksudnya, tiadalah diindahkannya barang sesuatu,  tiadalah  ditakutinya  barang  apapun  dan  tiadalah  ia  pandang - memandang.    Terbujur  lalu,   terbelintang   patah   katanya”
(Rusli,2013:103)
Kutipan tersebut menunjukan bahwa Datuk Meringgih adalah saudagar yang kaya tapi pelit dan licik pikirannya, ia harus mendapatkan sesuatu yang ia ingini dengan cara apapun. Pengarang langsung menggambarkan watak Datuk Meringgih dengan menggunakan teknik analitik.
Datuk Meringgih juga termasuk tokoh sederhana karena tokoh ini mudah dipahami wataknya, yaitu wataknya yang kasar, pelit, dan licik pikirannya. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Apabila ia hendak mengeluarkan uang, walau sesen sekali pun, dibalik-balik dan ditungkuptelentangkannya duit itu beberapa kali; karena sangat sayang ia akan bercerai dengan mata uangnya itu…”
       “Untuk memperoleh harta benda itu, tiada ia ngeri akan perbuatan yang kejam   dan   jahat,  tiada  ia  malu  akan  kelakuan  yang  keji   dan hina.” (Rusli,2013:104-105)
Baris pertama kutipan di atas menunjukan bahwa sifat Datuk Meringgih yang sangat pelit. Ia juga seorang yang kejam dan jahat terbukti pada baris kelima pada kutipan di atas.
Datuk meringgih juga termasuk tokoh berkembang karena Datuk Meringgih mengalami perubahan dan perkembangan perwatakan di awal memang tokoh ini termasuk tokoh antagonis tetapi di akhir cerita Datuk Meringgih mengalami perubahan perwatakan menjadi tokoh protagonis. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Setelah hadir sekalian, mulailah Datuk Meringgih membuka bicara. ‘Sebabnya maka kami minta datang ninik mamak, adik kakak, sanak saudara sekalian, mala mini berkumpul di sini, ialah karena hendak membicarakan aturan baru yang akan dipikulkan kompeni kepada kita, yaitu pembayaran uang belasting.”
       “…Jadi,  aturan  ini dibuat - buat  saja  oleh  orang  Belanda,  untuk memeras kita, supaya sekering-keringnya. (Rusli,2013:330-331)
Kutipan di atas menunjukan bahwa sebenarnya Datuk Meringgih adalah pelopor atau dalang terhadap pemberontokan perkara Belasting di Padang. Baris keenam kutipan di atas menunjukan bahwa Datuk Meringgih mengingatkan bahwa aturan itu sebenarnya tidak layak untuk dipatuhi karena aturan itu hanya dibuat-buat Belanda saja.
Kutipan di atas juga menggambarkan watak Datuk Meringgih yang pelit menggunakan teknik dramatik dengan teknik reaksi tokoh, yaitu reaksi ketika ada kebijakan baru Belanda untuk meminta pajak.  Dialah yang menjadi salah seorang tokoh yang menggerakan pemberontakan terhadap penjajah Belanda itu, walau hal itu dilakukan terutama juga karena motivasi pribadi yaitu karena dialah yang nanti akan kena pajak paling banyak akibat kebijakan Belanda itu dan dia tidak menginginkannya. Apapun motivasinya, dia tetap menjadi tokoh pemberontak, artinya dia adalah tokoh pejuang bangsa. Dengan demikian dialah yang berhak disebut pahlawan bukannya Samsulbahri yang bergabung dengan kompeni Belanda.
Pengarang juga menggambarkan sifat serta watak Datuk Meringgih menggunakan teknik dramatik dengan teknik pelukisan latar. Hal tersebut dapat dibuktikan pada kutipan berikut:
       “Di Kampung Ranah, di Kota Padang adalah sebuah rumah kayu, beratapan seng. Letaknya jauh dari jalan besar, dalam kebun yang luas…”
       “Jika ditilik pada alat perkakas rumah ini dan susunanya, nyatalah rumah ini suatu rumah yang tiada dipelihara benar-benar, karena sekalian yang ada dalamnya telah tua kotor dan tempatnya tiada teratur dengan baik…”
        “Di serambi muka hanya ada sebuah lampu gantung macam lama, yang telah berkarat  besi – besinya…”
        “Di bawah lampu ini, ada meja bundar, yang rupanya telah sangat tua, dikelilingi oleh empat kursi goyang dari kayu, yang warnanya hampir tak kelihatan lagi, karena catnya telah hilang. Di ruang tengah, hanya ada sebuah  lemari  makan,  yang  umurnya kira-kira  setengah  abad…”
      “Itulah rumah  Datuk Meringgih,  saudagar yang  termasyhur  kaya di
Padang.“ (Rusli,2013:102)

Kutipan di atas menunjukan bahwa Datuk Meringgih ialah hanya seorang pemalas yang jarang membersihkan rumahnya. Ia juga seorang yang pelit hal itu terbukti pada baris keenam kutipan di atas bahwa ia tidak mau mengeluarkan uangnya untuk mengganti lampu gantung yang sudah berkarat atau bahkan membeli kursi dan lemari makan yang baru.